Latar Belakang Terjadinya Perang Dunia II
Keadaan politik internasional menjelang Perang Dunia II menyerupai
keadaan tahun 1900-1914 sebelum Perang Dunia I. Ada yang menyatakan
bahwa Perang Dunia II merupakan lanjutan Perang Dunia I. Perang Dunia I
merupakan balas dendam Perancis terhadap Jerman karena dipermalukan
dalam kekalahannya ketika kalah perang tahun 1870-1871. Selain itu dalam
masalah industri, Jerman juga bersaing dengan Inggris. Dengan
persaingan-persaingan itu maka terbentuklah persekutuan militer
(aliansi). Ada dua persekutuan, yakni Triple Alliantie yang kemudian
dikenal dengan “Blok Sentral” yang terdiri atas Jerman, Austria dan
Italia.
Sedangkan Triple Entente yang kemudian disebut “Blok Sekutu” yang
terdiri atas Perancis, Inggris, Rusia dan lain-lain. Pada tanggal 1
Agustus 1914 Jerman mengumumkan perang kepada Rusia dan disusul Perancis
mengumumkan perang kepada Jerman tanggal 3 Agustus 1914. Kemudian
tanggal 4 Agustus Inggris mengumumkan perang kepada Jerman. Selanjutnya
berkecamuklah perang yang hamper melibatkan seluruh dunia dikenal
dengan Perang Dunia I.
Perang ini berakhir dengan kekalahan Jerman yang menyerah pada tanggal
11 November 1918. Sebagai pihak yang kalah, Jerman harus membayar ganti
rugi kepada Sekutu dengan dikuatkan dalam Perjanjian Versailles pada
tahun 1919. Kekalahan Jerman dengan telak ini member kesempatan kepada
Adolf Hitler membangkitkan bangsanya untuk melakukan balas dendam
kepada Perancis. Adolf Hitler mengembangkan fasisme dan kemudian
memulai Perang Dunia II dengan menyerbu Polandia pada tanggal di kota
Danzig pada tanggal 1 September 1939. Peristiwa itulah yang menjadi
sebab langsung terjadinya Perang Dunia II.
1. Sebab-Sebab Umum Terjadinya Perang Dunia II
Penyebab umum terjadinya Perang Dunia II sebagai berikut :
- Kegagalan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dalam menciptakan
perdamaian dunia. LBB bukan lagi alat untuk mencapai tujuan, tetapi
menjadi alat politik negaranegara besar untuk mencari keuntungan. LBB
tidak dapat berbuat apa-apa ketika negara-negara besar berbuat
semaunya, misalnya pada tahun 1935 Italia melakukan serangan terhadap
Ethiopia.
- Negara - negara maju saling berlomba memperkuat militer dan
persenjataannya. Dengan kegagalan LBB tersebut, dunia Barat terutama
Jerman dan Italia mencurigai komunisme Rusia, tetapi kemudian Rusia
mencurigai fasisme Italia dan nasional-sosialis Jerman. Oleh karena
saling mencurigai akhirnya negaranegara tersebut memperkuat militer dan
pesenjataannya
- . Adanya politik aliansi (mencari kawan persekutuan). Kekhawatiran
akan adanya perang besar, maka negara-negara mencari kawan dan
muncullah dua blok besar yakni:
- Blok Fasis terdiri atas Jerman, Italia, dan Jepang
- 2. Blok Sekutu terdiri atas:
- Blok demokrasi yaitu Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda.
- b) Blok komunis yaitu Rusia,Polandia, Hongaria, Bulgaria, Yugoslavia, Rumania, dan Cekoslovakia.
- d. Adanya pertentangan-pertentangan akibat ekspansi.
- Jerman mengumumkan “Lebensraum”nya (Jerman Raya) yang meliputi Eropa
- Tengah dan Italia menginginkan Italia Irredenta (Italia Raya) yang
meliputiM seluruh laut Tengah dan Abbesinea, serta Jepang mengumumkan
Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya. Ini berarti merupakan tantangan
terhadap imperialisme Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat.
4. . Adanya pertentangan faham demokrasi, fasisme dan komunisme.
5. Adanya politik balas dendam (“Revanche Idea”) Jerman terhadap Perancis,
karena Jerman merasa dihina dengan Perjanjian Versailles.
2. Sebab Khusus Terjadinya Perang Dunia II
Di Eropa, sebab khusus terjadinya Perang Dunia II adalah serbuan Jerman
ke Kota Danzig, Polandia pada tanggal 1 September 1939. Polandia
merupakan negara di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa. Hitler menuntut
Danzig karena penduduknya adalah bangsa Jerman, tetapi Polandia
menolak tuntutan itu. Pada tanggal 3 September 1939 negara-negara
pendukung LBB terutama Inggris dan Perancis mengumumkan perang kepada
Jerman, kemudian diikuti sekutu-sekutunya. Perang Dunia di Pasifik
disebabkan oleh serbuan Jepang terhadap Pangkalan Armada Angkatan Laut
Amerika di Pearl Harbour, Hawai (7 Desember 1941).
B Pihak-Pihak yang Berperang dalam Perang Dunia II
Jalannya Perang Dunia II terbagi dalam tiga medan yaitu medan Eropa,
medan Afrika Utara, dan medan Asia pasifik. Adapun pihak-pihak yang
berperang di beberapa medan peperangan dalam Perang Dunia II sebagai
berikut.
1. Medan Eropa
Pada tanggal 1 September 1939 Jerman menyerang Polandia. Inggris dan
Perancis mengumumkan perang kepada Jerman. Inilah sebagai awal
meletusnya Perang Dunia II.
Pada tanggal 9 April 1940 Jerman melakukan serangan ke utara yakni ke
Denmark dan Norwergia. Kedua negara ini dapat diduduki Jerman. Pada
bulan Mei 1940 Belanda dapat diduduki Jerman sehingga Ratu Wilhelmina
mengungsi ke Inggris. Pada tanggal 10 Juni 1940 Italia mengumumkan
perang kepada Perancis dan Inggris, dilanjutkan menyerbu Perancis. Pada
bulan Juni 1940 pasukan Jerman bergerak menuju Perancis dan dapat
mendudukinya. Tentara Perancis di bawah pimpinan Charles de Gaulle
mengungsi ke Inggris. Kekuatan dua negara fasis Jerman dan Italia
semakin mantap. Angkatan Udara Jerman menyerbu Inggris tetapi usahanya
gagal kemudian beralih dengan pengeboman-pengeboman dan serangan laut ke
arah Angkatan Laut Inggris. Pada tanggal 27 September 1940 Jerman,
Italia, dan Jepang bersatu dalam Perjanjian Tiga Negara.
Pada tanggal 22 Juni 1941 dengan bantuan Finlandia dan Rumania, Jerman
menyerbu Rusia. Padahal selama 18 bulan sebelumnya Hitler telah
mengadakan perjanjian dengan Uni Soviet tidak akan saling menyerang.
Bagaimana menurut pendapat anda tentang tindakan Hitler ini?
2. Medan Afrika
Tentara Jerman menyerbu Balkan sampai di Kreta. Rumania dan Bulgaria
memihak kepada Jerman. Inggris dapat memukul mundur tentara Italia di
Afrika Utara. Serangan Sekutu terhadap Blok Sentral pada tanggal 23
Oktober 1942 di Afrika Utara dipusatkan di El Alamien, Mesir. Tentara
Jerman di bawah Jenderal Erwin Rommel menyerbu Afrika dan menghantam
Inggris sampai di muka Alexandria. Serangan Jerman ke Afrika Utara dapat
ditahan oleh Inggris di bawah pimpinan Montgomery dan Amerika Serikat
di bawah Eisenhower pada tanggal 12 November 1942. Datangnya bantuan
pasukan Amerika Serikat membuat pertahanan Jerman semakin rapuh. Sejak
19 November 1942 Jerman kalah melawan Rusia dalam pertempuran di
Stalingrad. Kemudian Rusia menyerbu Polandia dan Balkan. Rumania dan
Bulgaria menyerah. Hongaria juga menyerah pada tanggal 13 Februari 1945.
Tentara Rusia di bawah Zhukov berhasil menyerbu Berlin. Berlin
diduduki Sekutu dari segala arah. Pertempuran hebat terjadi di dalam
kota Berlin, dan Berlin dapat direbut oleh Sekutu. Pada tanggal 30
April 1945 Hitler bunuh diri. Pada tanggal 7 Mei 1945 Jerman menyerah
kepada Sekutu tanpa syarat di Reims, Perancis.
3. Medan Asia Pasifik
Perang di medan Asia Pasifik diawali dengan penyerbuan pangkalan Armada
Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai pada tanggal 7
Desember 1941 oleh Jepang. Perang Dunia II di medan Asia Pasifik sering
disebut Perang Asia Timur Raya, karena Jepang selalu mempropagandakan
bahwa peperangan yang dilakukan bertujuan mewujudkan kemakmuran bersama
di kawasan Asia Timur Raya.
Dalam serangan Jepang pada tanggal 7 Desember 1941 menewaskan kurang
lebih 2.330 tentara Amerika Serikat dan 100 orang sipil di samping
menghancurkan peralatan perang Amerika Serikat. Jepang menyatakan perang
terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Serbuan Jepang
dilanjutkan ke negara-negara di Asia Tenggara dengan menduduki
Muangthai, Birma (Myanmar), Malaysia, dan Hindia Belanda (nama Indonesia
waktu itu).
Untuk membalas serangan-serangan Jepang, Sekutu menyusun taktik
serangan dari pulau satu ke pulau lain atau sistem katak loncat.
Strategi ini dipimpin oleh Jendral Dauglas Mac Arthur dan Laksamana
Chester Nimitz. Tentara Jepang di Laut Karang dan Midway (7 Mei 1942)
dihancurkan oleh Sekutu. Inilah titik balik pertama
Dalam pertempuran-pertempuran berikutnya Amerika Serikat dapat merebut
Filipina (22 Oktober1944), Iwo Jima (17 Maret 1945), Okinawa (21 Juni
1945). Kemudian Inggris di bawah Lord Louis Mauntbatten menyerbu Birma
(Myanmar) dan menghancurkan tentara Jepang (30 April 1945). Dari Saipan
dan Okinawa Angkatan Udara Amerika Serikat menyerang kota-kota Jepang,
tetapi Jepang belum menyerah. Akhirnya pada tanggal 6 Agustus 1945
Hiroshima dijatuhi bom atom dilanjutkan tanggal 9 Agustus 1945 di
Nagasaki. Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tanggal 14 Agustus
1945 (secara resmi 2 September 1945 di atas kapal “Missouri” di Teluk
Tokio). Dengan demikian berakhirlah Perang Dunia II karena Jepang
beserta negara-negara pendukungnya menyerah. Setelah Perang Dunia II berakhir maka
diadakanlah perjanjian-perjanjian perdamaian antara pihak pemenang dan
yang kalah. Perjanjian– perjanjian itu antara lain Konferensi Postdam
(2 Agustus 1945) dan Perjanjian San Fransisco (8 September1951).
a. Konferensi Postdam (2 Agustus 1945)
Konferensi ini diadakan antara Sekutu dengan Jerman yang dihadiri oleh Thruman, Stalin, dan
Attlee. Konferensi ini menghasilkan keputusan sebagai berikut:
- Jerman dibagi dalam 4 daerah pendudukan yakni bagian timur oleh
Rusia, bagian barat oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Kota
Berlin yang terletak di tengah-tengah daerah pendudukan Rusia, dibagi 4
bagian yakni Berlin Barat (Amerika Serikat, Inggris, Perancis) Berlin
Timur (Rusia).
- Danzig dan daerah Jerman sebelah timur Sungai Oder dan Neisse diberikan kepada Polandia.
- Angkatan Perang Jerman harus dikurangi jumlah tentara dan peralatan militernya (demiliterisasi)
- Penjahat perang, yakni tokoh-tokoh NAZI harus dihukum di bawah pengawasan internasional.
- Jerman harus membayar kerugian perang kepada Sekutu.
b. Perjanjian San Fransisco (8 September 1951)
Perjanjian ini diadakan antara Sekutu dengan Jepang pada tahun 1945 dan
dibuat di Jepang. Pada mulanya perjanjian ini hanya bersifat
sementara. Kemudian Perjanjian San Fransisco disahkan pada tanggal 8
September 1951. Rusia tidak ikut menandatangani perjanjian ini sehingga
tidak mengakuinya. Perjanjian ini berisi:
- Kepulauan Jepang di bawah pengawasan Amerika Serikat.
- Kepulauan Kurile dan Sakhalin Selatan diberikan kepada Rusia. Sedangkan Mantsyuria dan Taiwan diberikan kepada Tiongkok.
- Tokoh-tokoh fasis diadili sebagai penjahat perang dan harus dihukum di bawah pengawasan internasional.
- Jepang harus membayar kerugian perang kepada Sekutu.
C Akibat Perang Dunia II
Perang Dunia II yang berlangsung antara tahun 1939 – 1945 menimbulkan
akibat yang besar di bidang politik, ekonomi, sosial, dan kerohanian
bagi negaranegara di dunia.
1. Bidang Politik
Akibat yang muncul di bidang politik setelah Perang Dunia II berakhir sebagai berikut.
- Amerika Serikat dan Rusia (Uni Soviet) sebagai pemenang dalam Perang Dunia II tumbuh menjadi negara raksasa (adikuasa).
- Terjadinya perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet
yang menimbulkan Perang Dingin. Jika keduanya berimbang terjadi
keseimbangan kekuatan (Balance of Power Policy), walaupun perdamaian
diliputi ketakutan.
- Nasionalisme di Asia berkobar dan timbul negara-negara merdeka
seperti Indonesia (17 Agustus 1945),Filipina (4 Juli 1946), India dan
Pakistan Dominion (15 Agustus 1947) dan India merdeka penuh 26 Januari
1950, Birma (4 Januari 1948), dan Ceylon (dominion 4 Februari 1948).
- Munculnya politik mencari kawan atau aliansi yang dibentuk
berdasarkan kepentingan keamanan bersama, misalnya NATO, METO, dan
SEATO.
- Munculnya politik memecah belah negara, misalnya:
1) Jerman dibagi menjadi dua negara, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur.
2) Korea dibagi menjadi dua negara, yaitu Korea Selatan dan Korea Utara.
3) Indo-Cina dibagi menjadi tiga negara, yaitu Laos, Kamboja, dan Indo-Cina.
4) India dibagi menjadi dua negara, yaitu India dan Pakistan.
2. Bidang Ekonomi
Perang Dunia II menghancurkan perekonomian negara-negara di dunia
kecuali Amerika Serikat. Amerika Serikat menjadi pusat kekayaan dan
kreditur dari seluruh dunia.
Untuk menanamkan pengaruhnya di negara-negara Eropa dan yang lain,
Amerika Serikat melaksanakan program. Misalnya Truman Doctrine (1947),
Marshall Plan (1947), Point Four Truman dan Colombo Plan.
Program-program ini merupakan usaha untuk membendung berkembangnya
komunisme.
3. Bidang Sosial
Untuk membantu penduduk yang menderita akibat korban Perang Dunia II
PBB membentuk UNRRA (United Nations Relief Rehabilitation
Administration). Tugas UNRRA di antaranya sebagai berikut.
a. Memberi makan kepada orang-orang yang terlantar.
b. Mendirikan rumah sakit.
c. Mengurus pengungsi dan menyatukan dengan keluarganya.
d. Mengerjakan kembali tanah yang rusak.
4. Bidang Kerohanian
Setiap manusia menginginkan perdamaian. Berbagai upaya dilakukan agar
tercipta perdamaian dengan membentuk lembaga perdamaian. Penderitaan
yang ditimbulkan akibat Perang Dunia II menyadarkan manusia akan akibat
buruk perang. Penduduk dunia menyadari perlunya lembaga yang dapat
menjaga perdamaian dunia setelah Liga Bangsa-Bangsa dibubarkan. Pada
tanggal 24 Oktober 1945 didirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United
Nations Organization (UNO). Lembaga ini diharapkan dapat menjaga
perdamaian dunia. Kerugian-kerugian apa saja dari segi ekonomi maupun
kemanusiaan bagi negara-negara yang berperang dalam Perang Dunia II.
D Perang Dunia II di Asia-Pasifik serta Pendudukan Militer
Jepang di Indonesia
Perang Dunia II di medan Asia-Pasifik diawali oleh Jepang dengan membom
secara tiba-tiba terhadap pangkalan terbesar Angkatan Laut Amerika
Serikat Pearl Harbour di Pasifik tanggal 7 Desember 1941. Lima jam
setelah penyerangan itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda Van
Starkenborg Stachouwer menyatakan perang terhadap Jepang. Jepang dalam
waktu singkat melakukan serbuan ke selatan yakni pada tanggal 8 Desember
1941 menyerbu lapangan terbang Clark Field dan lapangan Iba di Pulau
Luzon Filipina. Setelah berhasil menguasai dua tempat tersebut Jepang
melanjutkan menduduki P. Hainan, Hongkong, dan Bangkok. Hongkong
merupakan pos terdepan bagi Inggris di Asia. Pada tanggal 10 Desember
1941 Jepang menduduki Pulau Luzon dan Bataan di Filipina dengan mendapat
perlawanan sengit dari pasukan Amerika yang dibantu sukarelawan
Filipina. Kemudian pada tanggal 16 Desember 1941 Jepang berhasil
menduduki Birma (Myanmar) dan akhirnya pada tanggal 20 Desember 1991
Jepang menduduki Davao di Filipina. Untuk menghadapi serangan Jepang,
tentara Sekutu membentuk komando ABDACOM (American, British Dutch
Australian Command) yaitu gabungan dari pasukan Amerika, Inggris,
Belanda, dan Australia yang bermarkas di Lembang (dekat Bandung).
Pasukan ini mulai beroperasi tanggal 15 Januari 1942 di bawah panglima
besar Sir Archibald Wavell (Inggris). Di samping itu juga membentuk
Front ABCD (American, British, Cina, Dutch) yaitu gabungan pasukan
Amerika, Inggris, Cina dan Belanda. Adapun serangan-serangan Jepang
semakin gencar dan menguasai beberapa
daerah. Pada bulan Januari 1942 Jepang menduduki Malaysia, Sumatera,
Jawa, dan Sulawesi. Malaysia pada waktu itu dikuasai Sekutu berhasil
direbut Jepang. Pada tanggal 24 Januari 1942 Jepang menduduki Tarakan,
Balikpapan, dan Kendari. Balikpapan merupakan sumber-sumber minyak maka
diserang dengan hati-hati agar tetap utuh, tetapi dibumihanguskan oleh
tentara Belanda.
Tanggal 3 Februari 1942 Samarinda diduduki pasukan Jepang. Pada waktu
itu Samarinda masih dikuasai tentara Hindia Belanda (KNIL). Dengan
direbutnya lapangan terbang oleh Jepang, maka tanggal 10 Februari 1942
Banjarmasin dengan mudah dapat diduduki. Pada tanggal 4 Februari 1942
Ambon berhasil diduduki Jepang, kemudian dilanjutkan pada tanggal 14
Februari 1942 menguasai Palembang dan sekitarnya. Dengan jatuhnya
Palembang maka dengan mudah Jepang masuk ke Jawa. Dalam
penyerbuan-penyerbuan itu Jepang lebih kuat dibanding Sekutu karena
Jepang memiliki bantuan kekuatan udara taktis. Sedangkan kekuatan udara
Sekutu sudah dihancurkan dalam pertempuran-pertempuran awal di
Indonesia maupun
Malaya (Malaysia). Adapun serangan-serangan pasukan Jepang di Jawa
diawali pada tanggal 1 Maret 1942, Jepang mendarat di Teluk Banten,
Eretan Wetan (Jawa Barat) dan di Kragan (Jawa Tengah). Kemudian tanggal 5
Maret kota Batavia (Jakarta) jatuh ke tangan tentara Jepang dan
dilanjutkan menduduki Buitenzorg (Bogor). Jepang menyerang di Pulau Jawa
karena dipandang sebagai basis kekuatan politik dan militer Belanda.
Oleh karena itu, gerakan pasukan Jepang baik dari arah barat maupun dari
timur ditujukan ke Pulau Jawa. Serangan-serangan Jepang dalam waktu
singkat dapat menjatuhkan negara-negara imperialis di Cina daratan dan
Asia Tenggara termasuk Belanda di Indonesia. Pasukan Belanda terkepung
di Cilacap dan Bandung kemudian menyerah tanpa syarat kepada Jepang di
Kalijati, Subang (Jawa Barat) pada tanggal 8 Maret 1942. Penyerahan ini
ditandatangani oleh Panglima Tentara Hindia Belanda Letnan Jenderal Ter
Poorten dan di pihak Jepang diwakili Jenderal Hitosyi Imamura.
E. Pengaruh Kebijakan Pemerintah Pendudukan Jepang di
Indonesia
Dengan penandatanganan ini maka Perang Dunia II membawa akibat bagi bangsa Indonesia yaitu:
1. Akibat positif, yaitu imperialisme Belanda di Indonesia berakhir,
2. Akibat negatif, yaitu Indonesia dijajah Jepang.
Masa penjajahan Jepang di Indonesia walaupun tidak begitu lama akan
tetapi mengakibatkan penderitaan lahir maupun batin. Rakyat kekurangan
pangan dan sandang serta mengalami penderitaan rokhaniah (moral).
Kebijaksanaan Jepang terhadap rakyat Indonesia mempunyai dua prioritas
yaitu:
1. Menghapuskan pengaruh-pengaruh Barat di kalangan rakyat Indonesia.
2. Menggerakkan rakyat Indonesia demi kemenangan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya
Adapun berbagai kebijakan pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia adalah
sebagai berikut.
1. Sistem Pemerintahan
Setelah bangsa Indonesia lepas dari penderitaan penjajahan Belanda
selama kurang lebih tiga setengah abad, kini bangsa Indonesia memasuki
penderitaan baru yakni dalam cengkeraman penjajah Jepang. Berbeda dengan
Belanda, Jepang di Indonesia menegakkan pemerintahan militeryang
diperintah oleh Angkatan Darat dan Angkatan Laut.
Pada mulanya kedatangan Jepang disambut gembira oleh bangsa Indonesia
karena berusaha menarik simpati dengan cara-cara sebagai berikut:
- Mengumandangkan propaganda antara lain kedatangan Jepang
bertujuan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajah Belanda karena
Jepang merupakan “Saudara Tua” bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia oleh
Jepang diajak bersamasama membentuk “Kemakmuran bersama di kawasan Asia
Timur Raya (Dai Toa)”.
- Menggunakan bahasa Indonesia di samping bahasa Jepang sebagai bahasa resmi.
- Mengikutsertakan orang-orang Indonesia dalam organisasi-organisasi
resmi pemerintah Jepang, misalnya dalam Gerakan 3A yang dipimpin oleh
Mr. Syamsuddin. Gerakan ini mempropagandakan peranan Jepang sebagai :
1. Cahaya Asia;
2. Pelindung Asia; dan
3. Pemimpin Asia.
Di samping itu juga mengangkat tokoh-tokoh nasional sebagai pemimpin
Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA).
- Menarik simpati umat Islam dengan mengizinkan organisasi Majelis Islam A’la Indonesia tetap berdiri.
- Bendera Merah Putih boleh dikibarkan berdampingan dengan bendera
Jepang Hinomaru. Begitu juga lagu Indonesia Raya boleh dinyanyikan di
samping lagu kebangsaan Jepang Kimigayo.
- Rakyat diwajibkan menyerahkan besi tua. Oleh Jepang besi tua ini dilebur dijadikan alat-alat perang.
- Semua harta peninggalan Belanda yang berupa perkebunan, pabrik maupun bank disita.
Akan tetapi, tindakan-tindakan Jepang sama dengan Belanda yakni
menjajah Indonesia. Jepang mulai menggantikan kedudukan-kedudukan
Belanda di Indonesia. Partai-partai politik dibubarkan, surat-surat
kabar dihentikan penerbitannya dan digantikan dengan koran
Jepang-Indonesia.
Dalam bidang politik pemerintahan, oleh Jepang dibentuk 8 bagian pada
pemerintah pusat dan bertanggung jawab pengelolaan ekonomi pada Syu
(karesidenan). Pemerintahan daerah diaktifkan kembali untuk memperkuat
dukungan terhadap kebutuhan ekonomi perang. Pada masa pendudukan Jepang
terjadilah perubahan di bidang politik pemerintahan yakni adanya
perubahan yang mendasar dalam sistem hukum. Dengan diberlakukannya
pemerintahan militer sementara waktu dan jabatan Gubernur Jenderal
dihapuskan diganti oleh tentara Jepang di Jawa guna mencegah terjadinya
kekacauan. Mulai tanggal 5 Agustus 1942 berakhirlah pemerintahan yang
bersifat sementara dan berlakulah pemerintah pendudukan Jepang di
Indonesia.
Dalam susunan pemerintah daerah di Jawa terdiri atas Syu (Karesidenan
yang dipimpin oleh Syucho, Si (Kotamadya) dipimpin oleh Sicho, Ken
(Kabupaten) dipimpin oleh Kencho, Gun (Kawedanan) dipimpin oleh Guncho,
Son (Kecamatan) dipimpin oleh Soncho, dan Ku (Desa/Kelurahan) dipimpin
oleh Kuncho. Pemerintah pendudukan Jepang ikut campur tangan terhadap
pangreh praja, yang sebenarnya mereka berkuasa langsung terhadap rakyat
akan tetapi selalu diawasi Jepang. Oleh karena itu rakyat Indonesia
dimanfaatkan untuk kepentingan Jepang. Akibat dari tindakan-tindakan
Jepang tersebut maka rakyat mengalami kesulitan ekonomi. Kekurangan
bahan makanan mengakibatkan rakyat kekurangan gizi dan kelaparan.
Penderitaan dan kemiskinan yang dialami rakyat Indonesia terjadi di
mana-mana. Dalam hal pakaian, rakyat terpaksa harus mengunakan pakaian
yang terbuat dari karung goni sehingga banyak berjangkit penyakit kulit.
Pada masa pendudukan Jepang terjadilah perubahan dalam bidang social
ekonomi. Bentuk penyerahan padi secara paksa sangat menyengsarakan
rakyat.
Mengapa Jepang banyak membutuhkan bahan pangan dari Indonesia?
Akibat dari bentuk penyerahan wajib ini banyak terjadi kelaparan,
meningkatnya angka kematian, menurunnya tingkat kesehatan masyarakat
serta keadaan sosial semakin memburuk. Angka kematian lebih tinggi dari
angka kelahiran. Di Kudus angka kematian mencapai 45,0 perseribu
(permil) dan di Purworejo mencapai 42,7 permil sedangkan di Wonosobo
mencapai 53,7 permil. Jadi pada jaman pendudukan Jepang keadaan petani
dan masyarakat pedesaan di
Jawa khususnya dalam keadaan sangat menderita. Selain memeras sumber
daya alam, pemerintah pendudukan Jepang juga memeras tenaga kerja
manusia. Untuk menggerakan rakyat Indonesia guna membantu maka
diadakanlah Romusha. Romusha adalah tenaga kerja paksa yang dikerahkan
Jepang untuk membangun objek-objek vital, seperti membangun lapangan
terbang, perbentengan- perbentengan, jalan rahasia dan terowongan menuju
pusat pertahanan, kubu pertahanan, jalan kereta api dan lain-lain.
Untuk memperolehtenaga kasar dalam romusha ini dikumpulkanlah kaum pria
di desa-desa tanpa diketahui di mana mereka
dipekerjakan. Banyak rakyat di Pulau Jawa dikirim ke luar Pulau Jawa
seperti ke Irian, Maluku, Sulawesi bahkan ke luar negeri sebagai
Romusha, misalnya ke Malaysia, Myanmar, dan Muang Thai.
2. Pengaruh Kebijakan Pemerintah Pendudukan Jepang
Pendudukan Jepang di Indonesia memengaruhi di berbagai bidang
kehidupan, yakni di bidang politik, ekonomi, militer, sosial budaya.
a. Bidang Politik
Pada masa pendudukan Jepang kegiatan politik dilarang keras dengan
adanya larangan berkumpul dan berserikat. Semua oraganisasi Pergerakan
Nasional yang didirikan rakyat dibubarkan kecuali terhadap golongan
Islam Nasionalis masih diberikan kelonggaran. Upaya Jepang dalam
memperkuat kedudukannya di Indonesia selain merubah sistem
pemerintahannya, yakni dengan system pemerintahan militer juga dengan
mendekati kaum nasionalis Islam, kaum nasionalis sekuler maupun
golonmgan pemuda. Terhadap golongan nasionalis Islam Jepang tetap
mengijinkan berdirinya organisasi MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia)
yang didirikan oleh K.H. Mas Mansur dan kawan- kawan di Surabaya pada
tahun 1937 pada jaman pemerintahan Hindia Belanda. Organisasi ini
diijinkan tetap berdiri dengan permintaan agar umat Islam tidak
melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat politik. Jepang juga melakukan
pendekatan terhadap kaum nasionalis sekuler dengan melakukan kerja
sama yakni membentuk Gerakan Tiga A. Nama gerakan ini dijabarkan dari
semboyan Jepang pada waktu itu :”Nippon cahaya Asia, Nippon pelindung
Asia, Nippon pemimpin Asia”. Gerakan Tiga A ini dipimpin oleh Mr.
Samsuddin, seorang tokoh Parindra Jawa Barat. Pemerintah pendudukan
Jepang menganggap bahwa Gerakan Tiga A tidak efektif sehingga pada bulan
Desember 1942 dibubarkan. Golongan pemuda juga mendapat perhatian pada
zaman pendudukan Jepang. Sebab oleh Jepang, golongan ini masih dianggap
belum sempat dipengaruhi oleh alam pikiran Barat.
b. Bidang Ekonomi
Pada jaman pendudukan Jepang kehidupan ekonomi rakyat sangat menderita.
Lemahnya ekonomi rakyat berawal dari sistem bumi hangus Hindia Belanda
ketika mengalami kekalahan dari Jepang pada bulan Maret 1942. Sejak
itulah kehidupan ekonomi menjadi lumpuh dan keadaan ekonomi berubah
dari ekonomi rakyat menjadi ekonomi perang. Langkah pertama yang
dilakukan Jepang adalah merehabilitasi prasarana ekonomi seperti
jembatan, alat-alat transportasi dan komunikasi. Selanjutnya Jepang
menyita seluruh kekayaan musuh dan dijadikan hak milik Jepang, seperti
perkebunan-perkebunan, bankbank, pabrik-pabrik, perusahaanperusahaan,
telekomunikasi dan lainlain.
Hal ini dilakukan karena pasukan Jepang dalam melakukan serangan ke
luar negaranya tidak membawa perbekalan makanan Kebijakan ekonomi
pemerintah pendudukan Jepang diprioritaskan untuk kepentingan perang.
Perkebunan kopi, teh dan tembakau yang dianggap s ebagai barang
kenikmatan dan kurang bermanfaat bagi kepentingan perang diganti dengan
tanaman penghasil bahan makanan dana tanaman jarak untuk pelumas.
Pola ekonomi perang yang dilancarakan oleh Tokyo dilaksanakan secara
konsekuen dalam wilayah yang diduduki oleh angkatan perangnya. Setiap
lingkungan daerah harus melaksanakan autarki (berdiri di atas kaki
sendiri), yang disesuaikan dengan situasi perang. Jawa dibagi atas 17
lingkungan autarki, Sumatra atas 3 lingkungan dan daerah Minseifu
(daerah yang diperintah Angkatan Laut Jepang) dibagi atas 3 lingkungan
autarki. Karena dengan sistem desentralisasi maka Jawa merupakan bagian
daripada “Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya” mempunyai dua
tugas, yakni:
1) memenuhi kebutuhan sendiri untuk tetap bertahan,
2) mengusahakan produksi barang- barang untuk kepentingan perang.
Seluruh kekayaan alam Indonesia dimanfaatkan Jepang untuk biaya perang.
Bahan makanan dihimpun dari rakyat untuk persediaan prajurit Jepang
seharihari, bahkan juga untuk keperluan perang jangka panjang.
Beberapa tindakan Jepang dalam memeras sumber daya alam dengan caracara berikut ini.
1) Petani wajib menyetorkan hasil panen berupa padi dan jagung untuk
keperluan konsumsi militer Jepang. Hal ini mengakibatkan rakyat
menderita kelaparan.
2) Penebangan hutan secara besarbesaran untuk keperluan industry
alat-alat perang, misalnya kayu jati untuk membuat tangkai senjata.
Pemusnahan hutan ini mengakibatkan banjir dan erosi yang sangat
merugikan para petani. Di samping itu erosi dapat mengurangi kesuburan
tanah.
3) Perkebunan-perkebunan yang tidak ada kaitannya dengan keperluan
perang dimusnahkan, misalnya perkebunan tembakau di Sumatera.
Selanjutnya petani diwajibkan menanam pohon jarak karena biji jarak
dijadikan minyak pelumas mesin pesawat terbang. Akibatnya petani
kehilangan lahan pertanian dan kehilangan waktu mengerjakan sawah.
Sedangkan untuk perkebunanperkebunan kina, tebu, dan karet tidak
dimusnahkan karena tanaman ini bermanfaat untuk kepentingan perang.
4) Penyerahan ternak sapi, kerbau dan lain-lain bagi pemilik ternak.
Kemudian ternak dipotong secara besar-besaran untuk keperluan konsumsi
tentara Jepang. Hal ini mengakibatkan hewan-hewan berkurang padahal
diperlukan untuk pertanian, yakni untuk membajak. Dengan dua tugas
inilah maka serta kekayaan pulau Jawa menjadi korban dari sistem
ekonomi perang pemerintah pendudukan Jepang. Cara yang ditempuh untuk
pengerahan tenaga Romusha ini dengan bujukan, tetapi apabila tidak
berhasil dengan cara paksa. Untuk menarik simpati penduduk, Jepang
mengatakan bahwa Romusha adalah pahlawan pekerja yang dihormati atau
prajurit ekonomi. Mereka digambarkan sebagai orang yang sedang
menunaikan tugas sucinya untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.
Sedangkan panitia pengerah Romusha disebut Romukyokai. Di samping
rakyat, bagi para pamong praja dan pegawai rendahan juga melakukan kerja
bakti sukarela yang disebut Kinrohoshi. Pemimpin-pemimpin Indonesia
membantu pemerintah Jepang dalam kegiatan Romusha ini. Bung Karno
memberi contoh berkinrohonsi (kerja bakti), Bung Hatta memimpin Badan
Pembantu Prajurit Pekerja atau Romusha. Ali Sastroamijoyo, S.H.
mempelopori pembaktian barang-barang perhiasan rakyat untuk membantu
biaya perang Jepang. Akibat dari Romusha ini jumlah pria di
kampung-kampung semakin menipis, banyak pekerjaan desa yang
terbengkelai, ribuan rakyat tidak kembali lagi ke kampungnya, karena
mati atau dibunuh oleh Jepang. Coba bandingkan dengan rodi pada jaman
penjajahan Belanda! Untuk mengawasi penduduk atas terlaksananya
gerakan-gerakan Jepang maka dibentuklah tonarigumi (rukun tetangga)
sampai ke pelosok pelosok pedesaan. Dengan demikian sumber daya manusia
rakyat Indonesia khususnya di Jawa dimanfaatkan secara kejam untuk
kepentingan Jepang. Akibat dari tekanan politik, ekonomi, sosial maupun
kultural ini menjadikan mental bangsa Indonesia mengalami ketakutan dan
kecemasan.
c. Bidang Militer
Perang Asia Pasifik sudah meluas di Asia Tenggara dan Asia Timur serta
Pasifik. Untuk keperluan tersebut Jepang memerlukan bantuan tenaga dari
bangsa Indonesia. Untuk itu dibentuklah organisasi-organisasi militer
maupun semi militer berikut ini.
1) Seinendan (Barisan Pemuda) Seinendan merupakan organisasi semi
militer yang dibentuk secara resmi tanggal 29 April 1943. Anggotanya
terdiri atas pemuda usia 14-22 tahun. Mereka dilatih militer untuk
mempertahankan diri maupun penyerangan. Tujuan pembentukan Seinendan
yang sebenarnya adalah agar Jepang memperoleh tenaga cadangan untuk
memperkuat pasukannya dalam Perang Asia Pasifik.
2) Keibodan (Barisan Pembantu Polisi) Keibodan merupakan organisasi
semi militer yang dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Anggotanya
terdiri atas para pemuda usia 23 – 25 tahun. Tugas Keibodan adalah
sebagai pembantu polisi dalam yang bertugas antara lain menjaga lalu
lintas, pengamanan desa, sebagai mata-mata, dan lain-lain. Jadi
keibodan ini selain untuk memperkuat kewaspadaan dan disiplin masyarakat
juga untuk politik pecah belah. Keibodan mendapat pengawasan ketat
dari tentara Jepang karena untuk menghindari pengaruh dari kaum
nasionalis dalam badan ini. Di seluruh pelosok tanah air sudah dibentuk
Keibodan walaupun namanya berbeda, antara lain di Sumatera disebut
Bogodan sedangkan di Kalimantan disebut Borneo Konen Hokukudan.
3) Fujinkai (Barisan Wanita) Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus
1943. Anggotanya terdiri atas wanita yang berumur 15 tahun ke atas.
Tugas Fujinkai adalah ikut memperkuat pertahanan dengan cara
mengumpulkan dana wajib berupa perhiasan, hewan ternak, dan bahan
makanan untuk kepentingan perang.
4) Heiho (Pembantu Prajurit Jepang) Heiho merupakan organisasi
militer resmi yang dibentuk pada bulan April 1945. Anggotanya adalah
para pemuda yang berusia 18 – 25 tahun. Heiho merupakan barisan pembantu
kesatuan angkatan perang dan dimasukkan sebagai bagian dari
ketentaraan Jepang. Heiho dijadikan sebagai tenaga kasar yang
dibutuhkan dalam peperangan misalnya memindahkan senjata dan peluru
dari gudang ke atas truk, serta pemeliharaan senjata lain-lain. Sampai
berakhirnya masa pendudukan Jepang jumlah anggota Heiho mencapai 42.000
orang. Prajurit Heiho juga dikirim ke luar negeri untuk menghadapi
pasukan Sekutu antara lain ke Malaya (Malaysia), Birma (Myanmar), dan
Kepulauan Salomon.
5) Syuisyintai (Barisan Pelopor) Syuisyintai diresmikan pada tanggal
25 September 1944. Syuisyintai ini dipimpin oleh Ir. Soekarno yang
dibantu oleh Oto Iskandardinata, R.P. Suroso, dan Dr. Buntaran
Martoatmojo. Barisan pelopor memiliki kekuatan satu batalyon di tiap
kota atau kabupaten, menyiapkan pemuda-pemuda dewasa untuk gerakan
perlawanan rakyat. Latihan-latihannya ditekankan pada semangat
kemiliteran.
6) Jawa Hokokai (Perhimpunan Kebaktian Rakyat Jawa) Jawa Hokokai
diresmikan pada tanggal 1 Maret 1944. Jawa Hokokai merupakan organisasi
resmi pemerintah dan langsung di bawah pengawasan pejabat Jepang.
Pimpinan tertinggi dipegang oleh Guneseikan (Kepala / pemerintahan
militer yang dijabat kepala staf tentara). Keanggotaan Jawa Hokokai
adalah para pemuda yang berusia minimal 14 tahun. Tugas Jawa Hokokai
adalah menggerakkan rakyat guna mengumpulkan pajak, upeti, dan hasil
pertanian rakyat.
7) PETA (Pembela Tanah Air) PETA dibentuk pada tanggal 3 Oktober
1944 atas usul Gotot Mangkupraja kepada Letjend. Kumakici Harada
(Panglima Tentara ke-16). PETA di Sumatera dikenal dengan Gyugun.
Pembentukan PETA ini berbeda dengan organisasi lain bentukan Jepang.
Anggota PETA terdiri atas orang Indonesia yang mendapat pendidikan
militer Jepang. PETA bertugas mempertahankan tanah air Indonesia. PETA
merupakan tentara garis kedua. Di Jawa dibentuk 50 batalion PETA.
Jabatan komando batalion dipegang oleh orang Indonesia tetapi setiap
komandan ada pelatih dan penasihat Jepang. Tokoh-tokoh PETA yang
terkenal antara lain Supriyadi, Jenderal Sudirman, Jenderal Gatot
Subroto, dan Jenderal Ahmad Yani. Pergerakan massa rakyat dalam
organisasi-organisasi di atas telah mendorong rakyat memiliki
keberanian, sikap mental untuk menentang penjajah, pemahaman terhadap
kemerdekaan maupun sikap mental yang mengarah pada terbentuknya
nasionalisme.
d. Bidang Sosial Budaya
Pada jaman pendudukan Jepang media massa diawasi dengan ketat. Surat
kabar, radio, maupun majalah terbit tanpa izin istimewa akan tetapi
selalu diawasi oleh badan-badan sensor. Walaupun demikian surat kabar
dan radio ikut berfungsi menyebarluaskan perkembangan bahasa Indonesia.
Lenyapnya bahasa Belanda dari pergaulan sehari- hari memberikan peluang
bagi perkembangan bahasa Indonesia. Larangan pemakaian bahasa Belanda
di semua papan- papan iklan maupun papan nama dan diganti dengan bahasa
Indonesia dan bahasa Jepang. Pertumbuhan bahasa Indonesia yang tak
dapat dibendung mengakibatkan mau tak mau Jepang mengabulkan keinginan
bangsa Indonesia untuk mengangkat bahasa melalui pelaksanaan Sumpah
Pemuda tahun 1928.
F Bentuk-Bentuk Perlawanan Rakyat dan Pergerakan
Kebangsaan Indonesia Melalui MIAI, Gerakan Bawah
Tanah, Perjuangan Bersenjata
Pada masa pendudukan Jepang, para pemimpin perjuangan bangsa Indonesia
bersikap hati-hati. Hal ini dikarenakan pemerintah pendudukan Jepang
sangat kejam, menyiksa bahkan membunuh terhadap siapa saja yang
terang-terangan menentang Jepang. Semua organisasi kebangsaan yang telah
ada sejak penjajahan Belanda dibubarkan. Para pemimpin pergerakan
kebangsaan selalu dicurigai dan diawasi dengan ketat. Hal tersebut
disebabkan karena sebelum Jepang masuk ke Indonesia telah mengirimkan
mata-mata sehingga memiliki data yang lengkap keadaan politik di
Indonesia. Menghadapi keadaan yang serba sulit maka para pemimpin bangsa
Indonesia berjuang dengan menyesuaikan situasi dan kondisi. Mereka
tidak kehilangan semangat perjuangan. Dengan taktik kooperasi para
pemimpin dapat membela nasib rakyat dan memanfaatkan kebijaksanaan
pemerintah Jepang untuk kepentingan nasional. Namun ada pula yang
mengadakan gerakan bawah tanah atau illegal maupun dengan perlawanan
bersenjata. Semua itu adalah mempunyai cita-cita yang sama yakni
mewujudkan Indonesia merdeka. Adapun bentuk perlawanan terhadap Jepang
adalah sebagai berikut.
1. Perjuangan Melalui Organisasi Bikinan Jepang
a. Memanfaatkan Gerakan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat)
Pada zaman pendudukan Jepang semua partai politik dibubarkan. Untuk
mempropagandakan politik Hakko Ichiu, Jepang membentuk Gerakan 3A
(Gerakan Tiga A) yang dipimpin Mr. Syamsudin. Organisasi ini dibubarkan
karena tidak mendapat simpati rakyat dan kemudian dibentuklah PUTERA
(Pusat Tenaga Rakyat) pada tanggal 1 Maret 1943. Pemimpin PUTERA yang
dikenal dengan Empat Serangkai adalah Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar
Dewantoro, dan K.H. Mas Mansyur. Tujuan Jepang membentuk PUTERA adalah
agar kaum nasionalis dan intelektual menyumbangkan tenaga dan
pikirannya untuk kepentingan Jepang. Namun oleh para pemimpin
Indonesia, PUTERA justru dimanfaatkan untuk membela rakyat dari
kekejaman Jepang serta untuk menggembleng mental dan semangat
nasionalisme, cinta tanah air , anti kolonialisme dan imperialisme.
Dengan demikian PUTERA ini ibarat tombak bermata dua. Organisasi PUTERA
mendapat sambutan di kalangan rakyat dan melalui organisasi ini mental
bangsa Indonesia disiapkan untuk menuju bangsa yang merdeka. Jepang
memandang bahwa PUTERA lebih bermanfaat bagi bangsa Indonesia maka pada
bulan April 1944, PUTERA oleh Jepang dibubarkan.
b. Memanfaatkan Barisan Pelopor (Syuisyintai)
Setelah PUTERA dibubarkan maka dibentuklah Jawa Hokokai (Perhimpunan
Kebaktian Rakyat Jawa). Salah satu bagian Jawa Hokokai adalah
Syuisyintai (Barisan Pelopor) yang dipimpin Ir.
Soekarno dengan pemimpin Harian atau Kepala Sekretariatnya adalah
Sudiro. Beberapa tokoh nasionalis lainnya sebagai anggota pengurus
antara lain Chaerul Saleh, Asmara Hadi, Sukardjo
Wiryopranoto, Oto Iskandardinata dan lain-lain. Organisasi ini
dimanfaatkan oleh para nasionalis sebagai penyalur aspirasi nasionalisme
dan memperkuat pertahanan pemuda melalui pidato-pidatonya.
c. Memanfaatkan Chuo Sangi In (Badan Penasihat Pusat)
Badan ini dibentuk pada tanggal 5 September 1943 atas anjuran Jenderal
Hideki Tojo (Perdana Menteri Jepang). Ketuanya Ir. Soekarno, anggotanya
berjumlah 23 orang Jepang dan 20 orang Indonesia. Tugas badan ini
adalah member nasihat atau pertimbangan kepada Seiko Shikikan (penguasa
tertinggi militer Jepang di Indonesia). Oleh para pemimpin Indonesia
melalui Chuo Sangi In dimanfaatkan untuk menggembleng kedisiplinan.
Salah satu saran Chuo Sangi In kepada Seiko Shikikan adalah agar
dibentuknya Barisan Pelopor untuk mempersatukan seluruh
penduduk agar secara bersama menggiatkan usaha mencapai kemenangan.
2. Perjuangan Melalui Organisasi Islam Majelis Islam A’l
Indonesia (MIAI)
Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) merupakan perkumpulan dari
organisasi- organisasi Islam yang didirikan pada tanggal 21 September
1937 di Surabaya pada masa pemerintah Hindia Belanda. Pemrakarsa
berdirinya organisasi ini adalah K.H. Mas Mansur, K.H. Wahab Hasbullah,
Wondoamiseno, dan lain- lain. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia
organisasi ini tetap diperbolehkan berdiri. Hal ini merupakan
pendekatan Jepang terhadap golongan nasionalis Islam agar umat Islam
tidak melakukan kegiatan-kegiatan politik. Pada masa penyerbuan
balatentara Jepang ke Indonesia, organisasi MIAI melakukan
kegiatan-kegiatan terutama dalam bidang agama, meskipun pada
tahun-tahun terakhir menjelang jatuhnya Hindia Belanda ke tangan
Jepang, perhatiannya ke bidang politik cukup besar. Hal ini dapt
dilihat dari programnya yang berupaya mempersatukan
organisasi-organisasi Islam untuk bekerja sama serta memperkokoh
persaudaraan umat Islam di Indonesia dan di luar negeri. Untuk
memperkuat kerja sama umat Islam tersebut maka MIAI mengadakan kongres
yang berlangsung sampai tiga kali. Kegiatan MIAI yang sangat menonjol
adalah membentuk baitul mal (Lembaga Perbendaharaan Negara) pusat.
Setelah penyerbuannya pada tahun 1942, Jepang merasa membutuhkan
hidupnya organisasi MIAI. Oleh karena itu Jepang masih memberi hak
hidup terhadap MIAI dalam melakukan kegiatannya. Walaupun Jepang masih
member hak hidup akan tetapi MIAI tidak dapat diharapkan bahkan
dianggap sebagai kendala terhadap keinginan Jepang. Hal ini dikarenakan
MIAI dibentuk atas inisiatif kaum muslimin dan perhatiannya banyak
tertuju pada masalah politik dan akan menolak segala bentuk kolonisasi.
Karena organisasi ini dianggap kurang memuaskan Jepang maka pada bulan
Oktober 1943 dibubarkan oleh Jepang diganti organisasi baru yakni
Majelis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI) yang disahkan oleh Gunseikan
pada tanggal 22 November 1943.
3. Perjuangan Melalui Gerakan Bawah Tanah
Selain melalui taktik kerja sama dengan Jepang, para pejuang melakukan
perjuangan secara rahasia (gerakan bawah tanah) atau ilegal. Beberapa
contoh perjuangan bawah tanah antara lain sebagai berikut
a. Gerakan Kelompok Sutan Syahrir
Kelompok ini merupakan pendukung demokrasi parlementer model Eropa
barat dan menentang Jepang karena merupakan negara fasis. Pengikut dari
kelompok ini terutama para pelajar dari kota Jakarta, Surabaya,
Cirebon, Garut, Semarang dan lain-lain. Mereka berjuang dengan cara
sembunyi-sembunyi atau dengan strategi gerakan ”bawah tanah
b. Gerakan Kelompok Amir Syarifuddin
Menjelang kedatangan Jepang di Indonesia, Amir Syarifuddin berhubungan
erat dengan P.J.A. Idenburg (pimpinan departemen pendidikan Hindia
Belanda). Melalui Dr. Charles Van der Plas, P.J.A. Idenburg membantu
uang sebesar 25.000 gulden kepada Amir Syarifuddin guna mengorganisir
gerakan bawah tanah melawan Jepang. Oleh karena itu kelompok ini anti
fasis dan menolak kerja sama dengan Jepang. Karena sangat keras dalam
mengkritik Jepang maka Amir Syarifuddin ditangkap dan dijatuhi hukuman
mati oleh Jepang pada tahun 1944. Atas bantuan Ir. Soekarno, hukumannya
diubah menjadi hukuman seumur hidup akan tetapi setelah Jepang
menyerah dan Indonesia merdeka, ia terbebas dari hukuman.
c. Golongan Persatuan Mahasiswa
Golongan ini sebagian besar berasal dari mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah
Kedokteran) di Jalan Prapatan 10 dan yang terhimpun dalam Badan
Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia (BAPERPI) di Cikini Raya 71.
Di antara tokoh BAPERPI yang terkenal adalah Supeno (Ketua), Burhanuddin
Harahap, dan Kusnandar. Sejumlah tokoh-tokoh mahasiswa/ Mpelajar yang
terkenal antara lain Djohar Noer, Sayoko, Syarif Thayeb, Darwis, Eri
Sadewo, Chairul Saleh, Kusnandar, Subadio Sastrosatomo, Wahidin
Nasution, dan Tadjuludin. Kelompok Persatuan Mahasiswa ini anti Jepang
dan sangat dekat dengan jalan pikiran Sutan Syahrir.
d. Kelompok Sukarni
Kelompok ini sangat berperan di sekitar proklamasi kemerdekaan.
Tokoh-tokoh yang tergabung dalam kelompok Sukarni antara lain Adam
Malik, Pandu Kartawiguna, Chaerul Saleh, dan Maruto Nitimihardjo
e. Kelompok Pemuda Menteng 31
Kelompok ini dibentuk oleh sejumlah pemuda yang bekerja pada bagian
propaganda Jepang (Sendenbu). Tokohtokoh terkenal dari kelompok ini
antara lain Sukarni, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Adam Malik, Pandu
Kartawiguna, Maruto Nitimihardjo, Khalid Rasjidi dan Djamhari. Kelompok
ini bermarkas di gedung Menteng 31 Jakarta. Secara resmi pendirian
asrama ini dibiayai Jepang dengan maksud menggembleng para pemuda untuk
menjadi alat mereka. Akan tetapi tempat ini oleh pemuda dimanfaatkan
secara diam-diam untuk menggerakkan semangat nasionalisme.
f . Golongan Kaigun
Kelompok ini anggotanya bekerja pada Angkatan Laut Jepang. Mereka
selalu menggalang dan membina kemerdekaan dengan berhubungan kepada
tokoh-tokoh Angkatan Laut Jepang yang simpati terhadap perjuangan bangsa
Indonesia. Kelompok ini mendirikan asrama Indonesia Merdeka di jalan
Bungur Besar No. 56 Jakarta. Asrama ini didirikan atas inisiatif dan
bantuan kepala perwakilan Kaigun di Jakarta, Laksamana Muda Maeda pada
bulan Oktober 1944. Dengan demikian kelompok ini merupakan kelompok yang
paling akhir terbentuk. Sebagai pengurus asrama oleh Maeda ditunjuklah
Mr. Ahmad Subardjo Djoyohadisuryo sebagai ketua dibantu tokoh-tokoh
muda Wikana. Di dalam asrama ini mendapat pendidikan politik dari
tokoh-tokoh nasionalis seperti Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Sutan
Syahrir, Iwa Kusuma Sumantri, Latuharhary, R.P. Singgih, Ratu Langie,
Maramis, dan Buntaran. Kelompok ini menjalin kerja sama dengan kelompok
bawah tanah yang lain tetapi dengan hati-hati agar tidak dicurigai
Jepang. Walaupun para pejuang terbagi dalam kelompok-kelompok di atas
dan menggunakan strategi perjuangan yang berbeda, akan tetapi mereka
memiliki kesamaan tujuan yakni mencapai kemerdekaan Indonesia.
Gerakan-gerakan di atas dalam mencapai tujuannya melakukan
kegiatan-kegiatan antara lain sebagai berikut.
1) Menjalin komunikasi dan memelihara semangat nasionalisme.
2) Menyiapkan kekuatan untuk menyambut kemerdekaan.
3) Mempropagandakan kesiapan untuk merdeka.
4) Memantau perkembangan Perang Pasifik.
4. Perjuangan Melalui Perlawanan Bersenjata
Selain perjuangan secara sembunyi-sembunyi (ilegal), para pemimpin
berjuang secara terbuka dengan melakukan perlawanan bersenjata.
Perlawanan bersenjata itu dilakukan oleh rakyat maupun pasukan PETA.
a. Perlawanan Bersenjata yang Dilakukan Rakyat
Perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh rakyat diberbagai daerah, antara lain
sebagai berikut.
1) Perlawanan Rakyat di Cot Pleing (10 November 1942) Perlawanan ini
dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil, seorang guru mengaji. Perlawanan di
Cot Pleing, Lhoseumawe, Aceh ini diawali dari serbuan Jepang terhadap
masjid di Cot Pleing. Masjid terbakar dan pasukan Tengku Abdul Jalil
banyak yang gugur. Akhirnya Tengku Abdul Jalil tewas ditembak oleh
Jepang.
2) Perlawanan Rakyat di Pontianak (16 Oktober 1943) Perlawanan ini
dilakukan oleh suku Dayak di pedalaman serta kaum feodal di
hutan-hutan. Latar belakang perlawanan ini karena mereka menderita
akibat tindakan Jepang yang kejam. Tokoh perlawanan dari kaum ningrat
yakni Utin Patimah.
3) Perlawanan Rakyat di Sukamanah, Singaparna, Jawa Barat (25
Februari 1944) Perlawanan ini dipimpin oleh KH. Zainal Mustafa, seorang
pendiri pesantren Sukamanah. Perlawanan ini lebih bersifat keagamaan.
KH. Zainal Mustafa tidak tahan lagi membiarkan penindasan dan pemerasan
terhadap rakyat, serta pemaksaan terhadap agama yakni adanya upacara
“Seikeirei” (menyembah terhadap Tenno Heika Kaisar Jepang). KH. Zainal
Mustafa beserta 27 orang pengikutnya dihukum mati oleh Jepang tanggal 25
Oktober 1944.
4) Perlawanan Rakyat di Cidempet, Kecamatan Lohbener, Indramayu (30
Juli 1944) Perlawanan ini dipimpin oleh H. Madriyas, Darini, Surat,
Tasiah dan H. Kartiwa. Perlawanan ini disebabkan oleh cara pengambilan
padi milik rakyat yang dilakukan Jepang dengan kejam. Sehabis panen,
padi langsung diangkut ke balai desa. Perlawanan rakyat dapat dipadamkan
secara kejam dan para pemimpin perlawanan ditangkap oleh Jepang.
5) Perlawanan Rakyat di Irian Jaya Perlawanan terjadi di beberapa daerah di Irian Jaya, antara lain sebagai berikut.
a) Perlawanan rakyat di Biak (1944) Perlawanan ini dipimpin oleh L.
Rumkorem, pimpinan Gerakan “Koreri” yang berpusat di Biak. Perlawanan
ini dilatarbelakangi oleh penderitaan rakyat yang diperlakukan sebagai
budak belian, dipukuli, dan dianiaya. Dalam perlawanan tersebut rakyat
banyak jatuh korban, tetapi rakyat melawan dengan gigih. Akhirnya Jepang
meninggalkan Pulau Biak.
b) Perlawanan rakyat di Pulau Yapen Selatan Perlawanan ini dipimpin
oleh Nimrod. Ketika Sekutu sudah mendekat maka memberi bantuan senjata
kepada pejuang sehingga perlawanan semakin seru. Nimrod dihukum pancung
oleh Jepang untuk menakut-nakuti rakyat. Tetapi rakyat tidak takut dan
muncullah seorang pemimpin gerilya yakni S. Papare.
c) Perlawanan rakyat di Tanah Besar, daratan Irian (Papua)
Perlawanan ini dipimpin oleh Simson. Dalam perlawanan rakyat di Irian
Jaya, terjadi hubungan kerja sama antara gerilyawan dengan pasukan
penyusup Sekutu sehingga rakyat mendapatkan modal senjata dari Sekutu.
b. Perlawanan Bersenjata yang Dilakukan PETA
Perlawanan bersenjata dilakukan oleh pasukan PETA di berbagai daerah, antara lain sebagai berikut.
1) Perlawanan PETA di Blitar (29 Februari 1945) Perlawanan ini
dipimpin oleh Syodanco Supriyadi, Syodanco Muradi, dan Dr. Ismail.
Perlawanan ini disebabkan karena persoalan pengumpulan padi, Romusha
maupun Heiho yang dilakukan secara paksa dan di luar batas
perikemanusiaan. Sebagai putera rakyat para pejuang tidak tega melihat
penderitaan rakyat. Di samping itu sikap para pelatih militer Jepang
yang angkuh dan merendahkan prajurit-prajurit Indonesia. Perlawanan PETA
di Blitar merupakan perlawanan yang terbesar di Jawa. Tetapi dengan
tipu muslihat Jepang melalui Kolonel Katagiri (Komandan pasukan Jepang),
pasukan PETA berhasil ditipu dengan pura-pura diajak berunding. Empat
perwira PETA dihukum mati dan tiga lainnya disiksa sampai mati.
Sedangkan Syodanco Supriyadi berhasil meloloskan diri.
2) Perlawanan PETA di Meureudu, Aceh (November 1944) Perlawanan ini
dipimpin oleh Perwira Gyugun T. Hamid. Latar belakang perlawanan ini
karena sikap Jepang yang angkuh dan kejam terhadap rakyat pada umumnya
dan prajurit Indonesia pada khususnya.
3) Perlawanan PETA di Gumilir, Cilacap (April 1945) Perlawanan ini
dipimpin oleh pemimpin regu (Bundanco) Kusaeri bersama rekan-rekannya.
Perlawanan yang direncanakan dimulai tanggal 21 April 1945 diketahui
Jepang sehingga Kusaeri ditangkap pada tanggal 25 April 1945. Kusaeri
divonis hukuman mati tetapi tidak terlaksana karena Jepang terdesak oleh
Sekutu.
Rangkuman Materi
- Perang Dunia II yang berlangsung pada tahun 1939 – 1945
disebabkan oleh beberapa hal, yakni kegagalan LBB dalam menciptakan
perdamaian, negara- negara maju saling berlomba memperkuat
persenjataannya, adanya politik persekutuan (aliansi), pertentangan
faham demokrasi, fasisme dan komunisme serta adanya politik balas
dendam Jerman terhadap Perancis. Adapun sebab khusus terjadinya Perang
Dunia II di Eropa adalah serbuan Jerman ke kota Danzig, Polandia
tanggal 1 September 1939. Sedangkan Perang Dunia di Pasifik disebabkan
serbuan Jepang terhadap pangkalan Armada AL Amerika Serikat di Pearl
Harbour tanggal 7 Desember 1941.
- Perang Dunia II melibatkan dua Blok, yakni Blok Sentral yang terdiri
dari Jerman, Italia dan Jepang. Sedangkan Blok Sekutu terdiri dari
Perancis, Inggris, Amerika Serikat, RRC, Australia, Rusia dan lain-
lain.
- Perang Dunia II di medan Timur melibatkan Jepang menjadi fihak yang
berperang melawan Sekutu. Indonesia menjadi sasaran ekspansi militer
Jepang karena merupakan Negara jajahan Belanda. Dengan ditaklukkannya
pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 8 Maret 1942 maka Indonesia
dikuasai oleh penjajah Jepang.
- Ketika Indonesia pada pendudukan Jepang rakyat sangat menderita di
segala segi kehidupan. Dengan menggunakan sistem pemerintahan militer,
Jepang membuat kebijakan-kebijakan yang sangat menyengsarakan rakyat di
berbagai bidang kehidupan, baik bidang politik, ekonomi, militer maupun
sosial budaya.
Ketika rakyat berada pada puncak penderitaan di bawah kekuasaan
militer Jepang maka rakyat, tokoh-tokoh nasional maupun tokoh- tokoh
agama melakukan perlawanan dengan menggunakan berbagai cara. Adapun
bentuk perlawanan terhadap pemerintah pendudukan Jepang adalah melalui
organisasi yang dibentuk oleh Jepang, melalui organisasi MIAI, melalui
gerakan Bawah Tanah, dan perjuangan bersenjata yang dilakukan rakyat
maupun PETA. Dengan kekalahan Jepang dari pihak Sekutu maka kondisi itu
mendorong bangsa Indonesia mempercepat pelaksanaan Proklamasi
Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
dikutip dari :http://gilangdiasmara-leo.blogspot.co.id